BTF Project

BTF Project

Share

13/10/2025

Setiap ortu pasti igin anakanya sukses

Setiap orang tua pasti ingin anaknya sukses. Tapi kenyataannya, pendidikan finansial yang ditanamkan di rumah berbeda antara keluarga kaya dan miskin. Perbedaan ini bukan hanya soal banyak atau sedikitnya uang, melainkan cara berpikir tentang uang dan hidup.

Orang kaya sadar bahwa kekayaan tidak hanya diwariskan dalam bentuk harta, tapi juga dalam bentuk mindset dan kebiasaan. Sementara banyak keluarga miskin cenderung hanya mengajarkan anaknya bagaimana bertahan hidup, bukan bagaimana membangun kehidupan yang lebih baik.

Lalu, apa sebenarnya yang orang kaya ajarkan ke anaknya, tapi orang miskin jarang?

1. Uang Bukan untuk Dihabiskan, Tapi Dikembangkan

Orang kaya mengajarkan anaknya bahwa uang adalah alat. Bukan sekadar untuk dibelanjakan, tetapi untuk ditumbuhkan melalui investasi, bisnis, atau aset produktif. Anak-anak mereka belajar sejak kecil bahwa menabung dan mengembangkan uang lebih penting daripada sekadar konsumsi.

Sebaliknya, banyak anak dari keluarga miskin melihat uang sebagai sesuatu yang langsung habis begitu diterima. Mindset “dapat–habis” ini diwariskan turun-temurun.

2. Gagal Itu Bagian dari Proses Belajar

Orang kaya biasanya tidak menakut-nakuti anaknya soal kegagalan. Mereka justru membiarkan anak mencoba, jatuh, lalu bangkit lagi. Dari situ anak belajar keberanian, kreativitas, dan daya juang.

Banyak keluarga miskin justru menanamkan rasa takut: “Jangan coba-coba, nanti rugi.” Akibatnya, anak lebih memilih jalan aman, tidak berani mengambil risiko, dan sulit berkembang.

3. Pentingnya Networking dan Lingkungan

Anak-anak orang kaya diajarkan sejak dini pentingnya membangun relasi. Mereka dibawa ke komunitas, dikenalkan dengan orang-orang berpengaruh, dan dilatih untuk bisa berkomunikasi dengan percaya diri.

Sebaliknya, anak dari keluarga miskin sering tumbuh dengan lingkungan yang terbatas. Networking dianggap bukan hal penting, padahal relasi adalah pintu besar menuju peluang.

4. Belajar Itu Tidak Pernah Berhenti

Orang kaya menanamkan pada anaknya bahwa belajar tidak hanya dari sekolah, tapi juga dari buku, pengalaman, mentor, bahkan kegagalan. Mereka membiasakan anak untuk membaca dan mencari ilmu di luar pendidikan formal.

Sementara banyak keluarga miskin menganggap sekolah tinggi saja sudah cukup. Setelah lulus, belajar selesai. Akhirnya, anak kehilangan daya saing karena tidak terbiasa memperbarui pengetahuan.

5. Waktu Lebih Berharga daripada Uang

Orang kaya mengajarkan anaknya untuk menghargai waktu. Mereka tahu waktu adalah aset terbatas yang harus digunakan untuk hal produktif. Anak-anak diajarkan manajemen waktu, disiplin, dan memilih prioritas.

Sebaliknya, banyak orang miskin yang terbiasa “menjual waktu” tanpa memikirkan nilai tambah. Akibatnya, anak pun mewarisi pola pikir yang sama: kerja keras tanpa strategi.

_________
Perbedaan terbesar antara orang kaya dan miskin bukan hanya di rekening bank, tetapi di mindset yang diturunkan ke anak-anak mereka. Orang kaya mengajarkan anaknya berpikir tentang masa depan, mengambil risiko, membangun relasi, dan mengelola uang sebagai alat untuk tumbuh.

Jika pola pikir ini bisa ditanamkan lebih luas, maka siapa pun—tak peduli lahir dari keluarga kaya atau miskin—punya peluang yang sama untuk memperbaiki hidupnya.

#storylife 13/10/2025

#storylife

13/10/2025

Katanya kerja keras buat masa depan, Tapi kok begitu masa depan datang dalam bentuk pensiun, malah kaget ya, Kayak orang yang udah latihan marathon seumur hidup tapi baru sadar finish line-nya jurang.

Menurut laporan HSBC (2019) yang dikutip oleh Kumparan (7 Oktober 2025), 9 dari 10 pekerja di Indonesia tidak siap pensiun. Alias, hampir semua orang kerja cuma buat bertahan hidup hari ini, bukan untuk hidup besok. Parahnya lagi, 1 dari 2 lansia di Indonesia masih hidup dari kiriman anak padahal dulu anaknya juga dibiayai dari keringat mereka. Ironi paling lembut dari sistem yang katanya “keluarga adalah investasi terbaik.

Kalau ditanya kenapa, alasannya klasik dan masuk akal katanya gaji cuma cukup buat hidup. Tapi coba pikir, dari dulu cuma cukup ini kayaknya gak pernah sembuh. Gaji naik, gaya hidup naik. Cicilan naik, gengsi juga ikut naik. Dan tahu gak yang paling gak pernah naik? Kesadaran buat nyiapin masa pensiun. Kita sibuk mikirin upgrade iPhone, tapi lupa upgrade tabungan. Ibaratnya, sebagian besar pekerja hidup kayak main game tanpa save data. Tiap hari ngelawan bos, lembur, kerja keras, tapi pas game over? Mulai dari nol lagi. Ironisnya, sistem pun ikut nyumbang chaos perusahaan lebih sibuk mikirin bonus tahunan daripada edukasi pensiun. Pemerintah pun kadang lebih rajin bikin jargon“ekonomi kuat ketimbang memastikan rakyatnya kuat secara finansial setelah pensiun.

Kalau ditelisik, ada 6 alasan klasik kenapa banyak pekerja gak siap pensiun. Masih punya utang, gaya hidup konsumtif, gengsi tinggi, gak biasa nabung, cuek soal hari tua, dan satu lagi menganggap pensiun itu urusan nanti. Padahal nanti itu gak pernah jauh. Umur 25 bilang masih lama, umur 35 bilang nanti aja, umur 45 bilang udah terlambat. Sampai akhirnya umur 55 baru sadar, uang pensiun gak datang dari langit, dan harga obat gak bisa dibayar pakai penyesalan. Yang lucu, setiap kali ada kampanye dana pensiun, banyak yang jawab, Ah, hidup aja susah, ngapain mikirin tua Padahal justru karena hidup susah, harusnya mikirin tua. Tapi beginilah kita rakyat yang hebat menunda hal penting dan lihai menertawakan masalah sendiri. Mungkin ini penyakit nasional, s**a bilang realistis padahal cuma malas berubah.

Di negara lain, kesadaran pensiun udah jadi budaya. Di Jepang, karyawan baru aja masuk kerja udah ditawari program pensiun pribadi. Di Eropa, usia 30-an udah punya portofolio dana hari tua. Di sini? Usia 40 masih mikirin mau kredit motor apa dulu, bukan mau investasi di mana. Bedanya bukan di jumlah gaji, tapi di arah mikir. Yang satu mikir masa depan, yang satu sibuk nyicil masa lalu. Jadi, mau sampai kapan kita bangga jadi pekerja keras tapi gak pernah jadi perencana cerdas? Mau sampai kapan bangun pagi buat kerja, tapi lupa bangun kesadaran buat menyiapkan pensiun?

Karena sejatinya, pensiun bukan tentang berhenti bekerja, tapi tentang bagaimana hidup tetap punya arah setelah tidak lagi digaji. Dan kalau kita terus cuek, jangan kaget kalau nanti yang kita wariskan bukan harta, tapi beban. Lucunya, di negeri yang katanya gotong royong ini, masa pensiun masih dianggap urusan pribadi.
Padahal, yang paling berbahaya bukan masa tua tanpa uang, tapi masa tua tanpa kesiapan.

Jadi kalau sekarang kamu masih bilang, Ah, masih lama pensiunnya, Percayalah, waktu nggak pernah menunggu. Dia cuma tersenyum sambil menghitung mundur hidupmu.
---


Disclaimer:
Tulisan ini merupakan ulasan sederhana terkait fenomena bisnis atau industri untuk digunakan masyarakat umum sebagai bahan pelajaran atau renungan. Walaupun menggunakan berbagai referensi yang dapat dipercaya, tulisan ini bukan naskah akademik maupun karya jurnalistik.

Want your business to be the top-listed Media Company in Bandung?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Category

Address

Bandung

Opening Hours

Monday 10:00 - 20:00
Tuesday 13:00 - 20:30
Wednesday 13:00 - 20:30
Thursday 12:30 - 20:00
Friday 07:30 - 11:15
13:30 - 17:45
Saturday 08:00 - 16:00
Sunday 08:00 - 16:00