Deva Shastravan Community
Menjadi Apa yang Kita Yakini, Lebih dari Sekadar Pikiran dan Keinginan
Oleh Deva Shastravan
===
Ada saat-saat dalam hidup di mana kita berhenti sejenak, merenungkan siapa diri kita sebenarnya dan apa yang ingin kita capai. Di tengah segala kebingungan itu, ada sebuah kutipan dari Oprah Winfrey yang terasa begitu kuat: "You become what you believe, not what you think or what you want." Mungkin sepintas terlihat sederhana, tapi makna di balik kata-kata itu menyentuh inti dari bagaimana kita menjalani hidup.
Oprah, seorang wanita yang dikenal karena kebijaksanaannya, mengajak kita untuk merenungkan tentang kekuatan dari sebuah keyakinan. Kita semua tentu memiliki pikiran, ide, dan keinginan. Pikiran datang dan pergi, seperti awan yang bergerak di langit. Terkadang, kita memikirkan hal-hal yang besar, ingin mencapai banyak hal, tetapi seringkali semua itu hanya berputar dalam kepala tanpa benar-benar menghasilkan tindakan nyata.
Namun, yang dimaksud Oprah bukan sekadar apa yang kita pikirkan, melainkan apa yang kita yakini. Keyakinan adalah sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang tertanam kuat dalam diri kita, yang secara tak sadar memengaruhi setiap langkah yang kita ambil. Coba kita bayangkan, jika seseorang percaya bahwa mereka tidak layak mendapatkan kesuksesan, maka sekeras apa pun mereka bekerja, selalu ada bayang-bayang keraguan yang menghantui. Seolah ada dinding tak terlihat yang membatasi langkah mereka.
Sebaliknya, jika kita benar-benar percaya bahwa kita bisa, bahwa kita mampu mengatasi tantangan apa pun, keyakinan itu akan menjadi bahan bakar yang mendorong kita terus maju. Ketika kita percaya bahwa kita bisa mencapai sesuatu, kita tidak hanya berpikir tentang hal itu atau menginginkannya, tetapi kita akan bertindak dengan cara yang sesuai dengan keyakinan tersebut. Keyakinan inilah yang membentuk tindakan kita, dan pada akhirnya, siapa kita sebenarnya.
Mari kita ambil contoh sederhana dari kehidupan sehari-hari. Bayangkan seseorang yang bercita-cita menjadi seorang penulis. Mereka mungkin memikirkan betapa menyenangkannya menulis novel yang sukses, atau mereka menginginkan pengakuan dari orang lain sebagai seorang penulis hebat. Tetapi, jika di dalam hati mereka ada keraguan, jika mereka tidak benar-benar percaya bahwa mereka mampu menulis sesuatu yang berharga, maka keinginan dan pikiran itu hanya akan menjadi mimpi yang tidak pernah terwujud.
Sebaliknya, jika orang tersebut benar-benar yakin bahwa mereka bisa menjadi penulis, keyakinan itu akan mengarahkan mereka untuk terus menulis, meskipun menghadapi kritik, meskipun ada saat-saat di mana mereka merasa karya mereka tidak cukup baik. Keyakinan itu akan membuat mereka terus belajar, berlatih, dan mencoba lagi, hingga akhirnya mereka menjadi seorang penulis seperti yang mereka yakini.
Ini mengingatkan kita bahwa keinginan atau pikiran saja tidak cukup. Banyak orang yang punya mimpi besar, tetapi hanya sedikit yang berhasil mewujudkannya. Rahasianya terletak pada keyakinan. Apa yang kita yakini tentang diri kita sendiri adalah fondasi dari apa yang akan kita capai. Keyakinan ini bukan hanya tentang optimisme buta, tetapi tentang sebuah kepercayaan mendalam bahwa kita mampu, bahwa kita layak, dan bahwa kita akan bertindak untuk mencapai tujuan kita.
Penting bagi kita untuk menggali lebih dalam dan bertanya pada diri sendiri: "Apa yang benar-benar saya yakini?" Apakah kita percaya bahwa kita layak bahagia? Apakah kita yakin bahwa kita bisa mencapai impian kita? Jika jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini adalah ya, maka kita sudah memiliki dasar yang kuat untuk membangun masa depan kita.
Keyakinan ini akan membimbing kita, menjadi kompas dalam mengambil keputusan, menghadapi tantangan, dan terus maju meskipun jalan di depan tampak sulit. Dan pada akhirnya, kita akan melihat bahwa hidup kita tidak terbentuk dari apa yang kita pikirkan atau inginkan, tetapi dari apa yang kita yakini dengan sepenuh hati.
Oprah Winfrey, dengan bijaksananya, telah memberikan kita sebuah peta sederhana namun mendalam tentang bagaimana menjalani hidup. Kuncinya ada di dalam diri kita, dalam keyakinan yang kita pegang teguh. Jadi, mulai sekarang, perkuatlah keyakinan kita, karena itulah yang akan menentukan siapa kita dan apa yang akan kita capai. Kita adalah apa yang kita yakini, dan dengan keyakinan yang kuat, kita bisa menjadi versi terbaik dari diri kita.
Saat kita benar-benar mempercayai sesuatu, keyakinan itu menjadi lebih dari sekadar pikiran yang melintas—ia menjadi prinsip yang mengarahkan hidup kita. Ini bukan hal yang terjadi dalam semalam, melainkan sebuah proses yang terus berkembang seiring waktu.
Tidak bisa dipungkiri, hidup ini penuh dengan tantangan. Dari yang kecil, seperti mengatasi rasa malas, hingga yang besar, seperti menghadapi kegagalan besar dalam hidup. Di sini, keyakinan kita benar-benar diuji. Ketika kita yakin bahwa kita bisa bangkit dari kegagalan, bahwa setiap tantangan adalah peluang untuk tumbuh, maka kita akan memiliki keberanian untuk menghadapi segala rintangan.
Bayangkan seorang atlet yang berlatih untuk olimpiade. Mereka tidak hanya berpikir bahwa mereka ingin memenangkan medali emas atau sekadar berharap mereka bisa melakukannya. Mereka meyakini dalam hati bahwa mereka mampu meraih kemenangan. Keyakinan inilah yang membuat mereka bangun setiap pagi untuk berlatih, bahkan saat tubuh mereka lelah atau cedera. Mereka tidak membiarkan rasa takut atau keraguan menguasai diri mereka, karena keyakinan mereka lebih kuat.
Begitu p**a dalam kehidupan kita sehari-hari. Ketika kita yakin bahwa kita bisa mencapai tujuan kita, kita akan menemukan cara untuk melakukannya, tidak peduli seberapa sulitnya jalan yang harus dilalui. Keyakinan ini menjadi seperti jangkar yang menahan kita di tempat saat badai datang. Tanpa keyakinan yang kuat, kita mungkin akan mudah menyerah dan membiarkan angin kencang membawa kita pergi, jauh dari tujuan kita.
Membangun keyakinan bukanlah sesuatu yang terjadi begitu saja. Itu adalah proses yang membutuhkan waktu, usaha, dan kesadaran diri. Salah satu cara untuk membangun keyakinan adalah dengan mulai memperhatikan bagaimana kita berbicara pada diri sendiri. Self-talk, atau dialog internal, memainkan peran besar dalam membentuk keyakinan kita.
Jika kita terus-menerus mengatakan pada diri sendiri bahwa kita tidak cukup baik atau bahwa kita tidak akan pernah berhasil, maka keyakinan negatif ini akan tertanam dalam pikiran kita. Sebaliknya, jika kita mulai mengganti pikiran-pikiran negatif dengan afirmasi positif—seperti, "Saya mampu," "Saya layak," atau "Saya bisa mengatasi ini"—maka lambat laun, keyakinan kita akan berubah menjadi lebih positif.
Penting juga untuk dikelilingi oleh orang-orang yang mendukung kita, yang percaya pada kemampuan kita. Lingkungan yang positif bisa menjadi cermin yang memperkuat keyakinan diri kita. Ketika kita berada di sekitar orang-orang yang juga memiliki keyakinan yang kuat dan mendukung pertumbuhan kita, kita akan lebih mudah membangun keyakinan yang kokoh.
Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa ada kalanya kita merasa ragu, bahkan ketika kita telah berusaha keras untuk membangun keyakinan. Ini adalah bagian dari proses. Yang penting adalah bagaimana kita merespons keraguan tersebut. Alih-alih membiarkan keraguan mengalahkan kita, kita bisa melihatnya sebagai tanda bahwa kita perlu kembali mengevaluasi tujuan kita, memperkuat tekad, dan terus bergerak maju.
Kunci dari quote Oprah Winfrey adalah bahwa keyakinan kita harus tercermin dalam tindakan nyata. Ini bukan hanya tentang berpikir positif atau berharap sesuatu terjadi, tetapi tentang mengambil langkah konkret untuk mewujudkan apa yang kita yakini. Keyakinan yang kuat akan memotivasi kita untuk bertindak, dan tindakan ini akan memperkuat keyakinan kita, menciptakan lingkaran positif yang terus berkembang.
Misalnya, jika kita percaya bahwa kita bisa belajar keterampilan baru, kita tidak hanya akan berpikir tentang hal itu atau berharap menjadi lebih baik. Kita akan mendaftar kursus, berlatih setiap hari, dan terus belajar meskipun menghadapi kesulitan. Setiap langkah kecil yang kita ambil memperkuat keyakinan kita dan membawa kita lebih dekat ke tujuan kita.
Ini juga berarti bahwa kita harus siap untuk gagal dan belajar dari kegagalan tersebut. Keyakinan bukan tentang menghindari kesalahan, tetapi tentang memiliki keberanian untuk terus mencoba, belajar dari setiap kegagalan, dan bangkit kembali. Dengan cara ini, keyakinan kita menjadi lebih kuat dan tahan terhadap cobaan.
Pada akhirnya, apa yang Oprah sampaikan adalah bahwa hidup kita dibentuk oleh keyakinan yang kita pegang. Apa yang kita yakini tentang diri kita akan menentukan siapa kita nantinya. Jika kita yakin bahwa kita bisa mencapai hal-hal besar, kita akan menemukan cara untuk melakukannya, meskipun jalan itu penuh dengan rintangan.
Kita semua memiliki potensi untuk menjadi versi terbaik dari diri kita. Namun, untuk mencapainya, kita harus mulai dengan keyakinan. Bukan sekadar berpikir atau menginginkan sesuatu, tetapi benar-benar percaya bahwa kita mampu mencapainya. Keyakinan ini akan membimbing kita melalui setiap keputusan, setiap tantangan, dan setiap keberhasilan yang kita raih.
Dengan membangun dan menjaga keyakinan yang positif, kita tidak hanya akan menjadi apa yang kita yakini, tetapi juga akan menjalani hidup yang penuh makna dan tujuan. Dan ketika kita mencapai hal-hal besar, kita bisa melihat kembali dan menyadari bahwa semua itu dimulai dengan keyakinan kecil di dalam hati kita—keyakinan bahwa kita bisa, bahwa kita mampu, dan bahwa kita layak untuk meraih impian kita.
SEWU GENI returns
Episode : Persiapan Ritual
By Deva Shastravan
===
Tak banyak perbincangan yang terjadi antara Wongso dengan Deva hari itu, karena Deva ingat bahwa dia harus kembali ke rumah Juragan Diran setelah sebelumnya dia berhasil mendamaikan antara Juragan Sungkono dengan Darsono yang terlibat perselisihan, hanya karena kedua anak mereka saling mencintai.
Sebenarnya masih ada satu masalah lagi yang ingin Deva selesaikan, yaitu tentang Mandor yang congkak dan angkuh itu.
Jiwa Deva yang selama ini tidak pernah menerima jika ada ketidakadilan di depan matanya, terasa bergolak ketika dia tahu dan melihat sendiri anak buah sang Mandor yang dibuat babak belur oleh Mandor.
Akan tetapi setibanya Deva di rumah, malam harinya dia berbincang dengan Juragan Diran yang lantas mengatakan kalau dia sudah memberi pelajaran kepada Mandor tersebut, dan menurut penuturan Juragan Diran sendiri bahwa Mandor itu kini telah berjanji tidak akan lagi bersikap semena-mena kepada anak buahnya.
Deva pun tidak bertanya lebih lanjut, pelajaran bagaimana yang diberikan oleh Juragan Diran kepada Mandor itu. Apakah antara Juragan Diran terjadi perkelahian? Ataukah justru hanya sekedar dinasehati saja?
Deva dan Juragan Diran berbincang di ruangan tamu. Sesekali Silvia melintas, seakan sengaja untuk mencari perhatian Deva. Namun Deva seakan-akan bersikap cuek dan tetap fokus berbincang dengan majikannya.
...
Sudah up di grub. Yang minat gabung klik link di atas, dan jawab pertanyaannya.
20/06/2021
KOPI LITERASI
EPISODE 002. Membaca sebagai Kewajiban Pertama
By Deva Shastravan
===
Minggu yang cerah, seduhlah secanggir kopi yang aromanya bisa hilangkan resah, lalu kita berbincang lagi di sini dengan santai.
Bicara tentang literasi, buku dan peradaban. Dalam bahasa ringan yang tak sampai membuat kepala terpecah jadi kepingan.
===
Saya berharap dan benar-benar menekankan, kita akan berbincang sesuatu yang ringan tapi bisa meresap di kedalaman hati dan pikiran, lalu kamu melakukan, tanpa beban.
Artinya, jika kemarin saya bicara tentang menulis maka harapannya kamu sudah mulai mencicil menulis, karena kalau tulisan-tulisanku tentang kopi literasi ini hanya menjadi bacaan kala senggang, tentu tak ada buah yang dapat diharapkan.
Buahnya, seratus persen untukmu, tak usah berpikir untuk berbagi denganku.
Baik, saya berandai-andai saja, kamu telah mulai menulis, dan kamu mulai mengeluh, tulisanku kok begini dan begitu?
Ya ya ... sabar. Setidaknya itu sebuah langkah pertama dari ribuan mil yang akan kamu lintasi mengarungi samudra literasi.
Ibarat pejuang, kamu butuh amunisi, sebuah perjalanan panjang memerlukan bekal dan untuk menjadi penulis sangat-sangat pasti membutuhkan bahan untuk ditulis.
Kini satu lagi yang akan kita obrolkan yaitu tentang betapa pentingnya membaca.
Kisah berikut ini hanyalah sekedar kilas balik saja tentang saya.
Saat kelas 4 SD saya sudah mulai mengenal Perpusda Lampung, kegilaan saya pada buku sebenarnya sudah terlihat bahkan sejak saya belum mengerti baca tulis. Maka setelah pandai baca tulis, mengenal Perpusda tentu saja bagai meneemukan taman bermain tang teramat indah.
Saya menjadi anggotanya, sampai lulus SMP. Setiap harinya saya meminjam dua buku, walaupun batas pengembalian adalah seminggu, tetapi kadang dua tiga hari saya sudah mengembalikan buku yang saya pinjam untuk kemudian meminjam lagi.
Enam tahun saya menjadi anggota Perpusda.
Tiga tahun pertama sebagai siswa SD saya hanya diizinkan berada di ruang anak, maka buku-buku komik beraneka judul dan buku-buku dongeng serta novel-novel anak menjadi sasaran bacaan saya kala itu.
Hal serupa juga berlangsung di SD, di mana buku-buku cerita di perpustakaan SD terbitan Depdiknas menjadi santapan paling lezat yang mengenyangkan rasa lapar saya akan bahan bacaan.
Tiga Tahun berikutnya, saat duduk di bangku SMP saya mulai diizinkan berada di ruangan untuk umum di Perpusda Lampung, kegilaan saya pada buku pun semakin menjadi-jadi.
Maka buku-buku Novel tebal karangan Agatha Christie, John Grisham, S Mara Gd, Arthur Conan Doyle dll jadi hiburan saya yang berat tapi mengasikkan.
Sedangkan yang agak ringan seperti Lima Sekawan, Trio Detektif, maupun STOP (Sporty, Thomas, Oscar dan Petra) sudah lebih dulu saya baca habis.
Adapun untuk buku-buku non-fiksi saya saat itu lebih tertarik pada buku-buku bertema pengembangan diri, motivasi, psikologi dll.
Itulah sedikit perjalanan saya mengenal dunia buku, terjun sedalam mungkin ke dalamnya.
Jadi diri saya yang sekarang, jika dilihat dalam karya-karya yang saya tulis baik berupa cerpen, puisi, artikel maupun Novel atau cerita bersambung, sudah pasti masa-masa enam tahun itu berpengaruh besar pada perkembangan saya dalam menulis.
Adapun masa-masa setelah enam tahun dengan Perpusda Lampung, bukan berarti saya berhenti membaca, tetapi saya lebih banyak waktu yang saya habiskan di Gramedia.
Jika memiliki uang lebih, atau setelah gajian, selalu saya sisihkan untuk membeli sebuah buku, tema apapun itu, baik fiksi maupun non-fiksi yang saya s**ai.
Kalau saja semua buku-buku yang saya beli itu masih ada, tentulah saya akan butuh banyak rak untuk menyimpannya, namun semua buku itu habis dipinjam tanpa pernah dikembalikan. Entah hilang atau memang sengaja tak dip**angkan.
Fase berubah, era Hp Nokia, saya banyak membaca ebook yang saya download dari Google, formatnya biasanya Prc, denga hape nokia 7610.
Beralih ke jaman Blackberry, mulai mengenal ebook pdf.
Hingga kini di jaman Android, saya masih gemar membaca, baik di blog-blog, aplikasi ebook atau sengaja mendownload ebook dalam beraneka format.
Tentu saja, saya tidak akan mengajakmu untuk segila saya dalam mencintai buku dan hobby dalam membaca, tetapi point penting di sini yang akan saya tekankan adalah seorang penulis itu sangat-sangat butuh akan bahan bacaan.
Bahkan andai kamu bukan seseorang yang hendak berprofesi menjadi Penulis, jika kamu muslim, bukankah kamu tahu bahwa sangat jelas perintah pertama yang diminta Allah kepada hamba-Nya adalah Iqra’ : Bacalah!
Jadikan membaca sebagai kebiasaanmu, selalu sisihkan waktu dalam sehari untuk membaca.
Yaah .... semampunya saja, yang pasti, pastikan bahwa hari ini ada pegetahuan baru yang kamu dapat dari apa yang kamu baca.
Sebuah ungkapan lawas, “Buku adalah Jendela Dunia.” Rasanya ungkapan itu masih sangat relevan di jaman yang serba digital ini.
Satu buku motivasi yang kamu baca, akan membakar semangatmu untuk berbuat sesuatu.
Satu buku Pengembangan diri yang kamu baca, akan semakin mematangkan dan mendewasakanmu.
Satu buku biografi, akan menambah wawasanmu dan mengambil banyak hikmah dari seorang tokoh, pengalamannya seumur hidup dapat kamu serap hanya dalam waktu beberapa jam membaca biografinya, edan sekali bukan?
Bahkan sebuah cerpen, puisi, juga novel yang kamu baca, akan melembutkan jiwamu, memperkaya pengalaman dan wawasanmu, juga menjadi inspirasi untuk cerita-ceritamu (Jika kamu ingin menulis novel juga) selain tentu saja sebuah novel yang bagus akan memberimu sebuah hiburan yang menguras emosi.
So, saya tidak mau berpanjang-panjang kata.
Intinya, s**a nggak s**a, mau jadi Penulis atau tidak, jadikan membaca menjadi bagian dari habbitmu.
Karena sebuah buku, andai diibaratkan cahaya, sekali kamu membacanya, maka seumur hidup dia akan menerangimu dengan pengetahuannya.
Bahkan artikel kecil ini yang gak penting-penting amat sih, yang hanya sebagai teman kopimu di pagi hari, tetap saja saya harapkan ada sesuatu yang membekas. Syukur-syukur membakar dan menggelorakan semangatmu untuk mulai membaca.
Akhirnya, selamat ber-aktifitas untuk hari ini, kita akan jumpa lagi dalam obrolan santai literasi dengan tema-tema ringan lainnya.
Salam Kopi Literasi
===
Click here to claim your Sponsored Listing.