Alwi Rahmat
KHALIFAH
Khalifah adalah pergantian kepimimpinan nabi Muhammmad SAW untuk mengurus kemeslahatan umat.
Dan masa kekhalifahan hanya berdurasi 30 tahun saja, sebagaimana kanjeng nabi pernah bersua
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْخِلَافَةُ فِي أُمَّتِي ثَلَاثُونَ سَنَةً ثُمَّ مُلْكٌ بَعْدَ ذَلِكَ
Rasulullah saw bersabda: “Khilafah pada umatku ada tiga puluh tahun setelah itu para raja (sebagai penguasanya). HR. Turmudzi.
Nah, kopi dan camilan kali ini sedikit menawarkan berupa draf berikut ini.
Mari kita mengkalkulasikan bersama;
1. Abu Bakar.
Masa kepemimpinan 2 tahun 3 bulan 10 hari.
2. Umar bin Khatab.
Masa kepimimpinan 10 tahun 6 bulan 8 hari.
3. Usman bin Affan.
Masa kepemimpinan 11 tahun 11 bulan 9 hari.
4. Ali bin Abi Thalib.
Masa kepemimpinan 4 tahun 9 bulan 7 hari.
Jumlah lama dari keseluruhan nya adalah
29 tahun 6 bulan 4 hari. Setelah itu
5 bulan 26 hari di lanjutkan oleh Saidina Hasan anak dari Ali bin Abi Thalib atau cucu Rasulullah sendiri.
Jadi, genap 30 tahun masa kekhalifahan.
Waba’da zalik kepemimpinan itupun langsung dimahkotakan oleh pemuka-pemukanya. Diantaranya.
1. Thalhah bin Ubaidillah.
2. Zubair bin Awwal
3. Abdurrahman bin Auf
4. Saad bin abi Waqas
5. Said bin zaed
6. Abu Ubaidillah Amir bin Jarrah.
Jadi genaplah 10 sahabat nabi yang di jamin masuk surga.
Date : 20. 05. 2019
Kajian kitab : Abi Jamarah.
Kembali kita menopang mata berkait untaian kata yang keluar dari mulut insan paling mulia yang pernah di lahirkan dan sesempurna ciptaan yang telah di cipta.
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُنْ عَالِمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا أَوْ مُسْتَمِعًا أَوْ مُحِبًّا وَلَا تَكُنْ خَامِسًا فَتَهْلِكَ (رواه بيهقى)
Nabi SAW bersabda ;
1. Jadilah engkau orang berilmu, atau
2. Orang yang menuntut ilmu, atau
3. Orang yang mau mendengarkan ilmu, atau
4. Orang yang menyukai ilmu. dan janganlah engkau menjadi orang yang kelima maka kamu akan celaka” (HR. Baihaqi).
Dalam untaian hadist kali ini kembali kita dipertemukan bukti yang kiranya kita mesti jadi bagian dari yang kian tertera.
Dalam hal ini jelas tak terbantahkan bahwa ilmu menempati kedudukan paling tinggi dan musabbab dengan mendapatinya tidak se enteng hanya dengan mengusap layar gawai.
Bahkan dalam memahami dari kalimat
ًطَلَبُ العِلمِ ً
Yakni “menuntut” itu tidak semudah yang kita angan-angankan, pikirkan dan kita hayalkan hanya dengan modal paket dan satu kitab persegi panjang ajaib itu. Sampai- sampai menjelma sebagai kebutuhan paling pokok pada zaman kiwari.
hingga tanpanya kita merasa lapar dan gerah.
Namun, ya “La budda min” sudah masa di mana kita mesti membutuhkan sepetak benda tersebut.
Bahkan kita tidak bisa mencekal menuntut ilmu lewat barang itu.
Aah.. rasanya agak berat mengatakan sedemikian. Terlalu menganggap gampang bagi penuntut, terlalu instan mendapatkannya.
Tapi, penuntut itu mesti menyebrangi dalamnya kepayahan melawati duri tajam yang penuh rintangan juga dibutuh mendurasikan diri yang tidak begitu singkat, membutuhkan fase yang sekian lama.
Hingga apa yang diperoleh menjadi nikmat dan keberkahannya.
Bahkan kita ditolak lupakan dengan kaidah ini
ًألجزاء بقدار العمل ً
“Pembalasan itu sejauh mana yang kita usaha”
Lalu, dalil mana lagi yang akan kita berdalih untuk mensepelekan, mengabaikan, menganggap tidak penting? Tidak ada! Dengan ayat mana lagi kita berargumen menuntut itu di tidak di nomor satukan dalam agama? Tidak ada!
Maka, kejelasan dari itu semua dapat dipahamkan agama begitu jelas secara terang-terangan menyuruh pemeluknya untuk menuntut ilmu.
Orang dengan posisi duduk sambil melihat ke kanan atas sambil tersenyum, cenderung sedang berfikir hal yang indah.
وَلَيْسَ الذِّئْبُ يَأْكُلُ لَحْمَ ذِئْبٍ [1]
وَيَأْكُلُ بَعْضُنَا بَعْضًا عِيَانًا
Serigala tidak makan daging serigala
Dan sebagian kita makan sebagian yang lain secara telanjang.
[1] Al-Syair, Diwan al-Imam al-Syafi’i , h. 98.
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Website
Address
Aceh
24356